Ketika Dwayne “The Rock” Johnson memasuki red carpet Venice Film Festival dengan penampilan yang nyaris tak dikenali—rambut ikal cokelat, tubuh lebih bergelambir, dan aura yang jauh dari persona aksi blockbuster-nya—itu bukan sekadar langkah karier. Ini adalah titik balik emosional untuk salah satu ikon Hollywood terbesar saat ini. Film yang mengubah segalanya? The Smashing Machine, sebuah biopik MMA yang mengupas sisi rapuh dan terdalam dari legenda olahraga, Mark Kerr.
Disutradarai oleh Benny Safdie dalam debut solo yang intens, film ini mengisahkan perjalanan Mark Kerr di era 1997–2000—masa di mana UFC dan MMA memasuki panggung global yang brutal, tak termaafkan, dan penuh tekanan.
Safdie menyertakan segala kegetiran itu dalam narasi film-nya: ketergantungan opioid, kecemasan prestasi, dan hubungan yang rapuh dengan Dawn, diperankan oleh Emily Blunt.
Daftar Isi
The Smashing Machine: Sebuah Transformasi Besar
Johnson bukan hanya mengubah fisiknya melalui latihan ketat dan prostetik—ia menciptakan karakter yang nyaris tidak dikenal oleh penonton lama. “Penampilannya sangat berbeda, menyeramkan,” kata Emily Blunt tentang saat pertama melihat transformasi Johnson menjadi Kerr.
Tanggapan kritikus di Venice sangat positif. Johnson disebut telah melampaui persona aksi dan menampilkan kerentanan yang nyata, diikuti pujian untuk Blunt sebagai pasangan emosional yang kuat dan karakternya bukan sekadar pelengkap, tapi inti dari konflik dan drama cerita.
Grittiest, Paling Intim Masih Menggetarkan
Berbeda dari biopik sports pada umumnya, The Smashing Machine memilih jalur introspektif dan minimalis, bukan kemenangan glamor. Safdie dengan sengaja menyuguhkan sinematografi naturalistik—kamera genggam, 16mm dan IMAX—untuk mengekspresikan brutalitas tanpa dramatisasi lebay. Sensasi “menjadi lalat di dinding” dalam momen-momen terjatuhnya Kerr terasa nyata dan menohok.
Baca Juga: The Conjuring: Last Rites – Sinopsis Cerita Paranormal Bikin Merinding!
The Smashing Machine: Di antara Harapan dan Kritik
Positif:
- Time Out menyebut film ini sebagai “The Wrestler-nya Johnson,” di mana ketenaran dan kekuatan digantikan oleh kerentanan, ketidakpastian, serta batas tipis antara cinta dan kecanduan.
- The Guardian memuji ketulusan emosional Johnson, dengan adegan seperti keruntuhan pasca-kekalahan sebagai momen paling berdampak.
Kritik & Batasannya:
- Vulture menyebut film ini “terlalu lembut” bagi genre biopik olahraga—mengurangi sisi brutal demi refleksi internal Kerr.
- Decider menyoroti keterbatasan ekspresi Johnson karena prostetik, dan Blunt meski kuat, karakternya terasa sedikit kurang digali.
- Loud and Clear Reviews menyebut narasi film terlalu familiar dan kurang inovatif, meski dikompensasi dengan sinematografi dan sinergi pemain yang kuat.
Latar Belakang Sejarah Kenangan
Kisah Mark Kerr sendiri sebelumnya diangkat dalam dokumenter HBO tahun 2002, berjudul The Smashing Machine: The Life and Times of Extreme Fighter Mark Kerr, yang menyoroti karier, kecanduan, dan perjuangannya melewati trauma MMA era awa.
Film A24 terinspirasi langsung oleh realitas gelap itu, menjadikannya lebih dari sekadar biopik—ia adalah homage terhadap seorang petarung yang disembunyikan oleh sejarah olahraga.
The Smashing Machine, Rilis Awal Oktober 2025
Dwayne Johnson, Emily Blunt, Mark Kerr, dan penulis sekaligus sutradara Benny Safdie hadir secara istimewa dalam pemutaran perdana dunia film THE SMASHING MACHINE yang digelar di Festival Film
Venesia. Kehadiran mereka menambah semarak acara bergengsi ini, yang menarik perhatian para pencinta film serta para kritikus internasional.
Film ini dijadwalkan mulai tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 3 Oktober mendatang, siap memberikan pengalaman sinematik yang mendalam dan mengesankan bagi para penonton.
Baca Juga: Good Boy: Film Horor dari POV Anjing yang Siap Bikin Penonton Merinding
Kesimpulan: Kekuatan dalam Kerapuhan
The Smashing Machine bukan hanya film olahraga atau transformasi fisik—ini adalah studi karakter yang brutal, emosional, dan manusiawi. Johnson melalui perannya menunjukkan lapisan kedalaman yang jarang terlihat di layar, mencandu, kecemasan sukses, dan harga loyalitas yang membakar.
Blunt menghadirkan sosok yang tidak sekadar mendukung, tetapi katalis emosional bagi cerita. Visualnya, sinematik, kasar, dan mencekam—seolah membawa penonton langsung ke arena, bukan hanya menyaksikannya.
Jika ingin lanjutan dalam eksplorasi lebih lanjut—misalnya analisis tema kecanduan, tokoh Dawn dalam konteks patriarki sports, atau bagaimana film ini mencerminkan evolusi MMA—aku siap bantu selami lebih dalam.
toprankmedia.id selalu hadir memberikan berita VIRAL, informasi terupdate, dan ulasan terpercaya seputar TOP 10 Brand yang relevan dengan kehidupan Anda. Ikuti selalu update terbaru dari kami, karena kami hadir untuk membuat Anda selalu #UpToDate.






